|
| Aktual | Cetak | Forum Editorial | Dari Anda | Kamis, 31 Oktober 2002 |
|
SDM TI Indonesia Hebat, namun tidak 'Pede' SESUNGGUHNYA mutu otak orang Indonesia tak kalah dengan mutu otak manusia lain di negeri mana pun. Salah satu indikatornya, orang Indonesia cepat tanggap terhadap setiap perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi, meskipun umumnya masih pada tahap mengonsumsi belaka. Akan tetapi, mengapa sekarang Indonesia jauh tertinggal di bidang teknologi informasi (TI) dibanding negara-negara Asia lainnya, seperti India, China, Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Thailand? Mengapa kini China dan India sudah diakui dunia dalam hal kreasi, inovasi, produksi, dan pemasaran peranti lunak TI? ''Dilihat dari mutu sumber daya manusianya, saya sangat optimistis, Indonesia pun akan mampu jadi produsen peranti lunak TI kelas dunia. Pendidikan di bidang TI di sini sangat bagus. Jadi, banyak orang Indonesia yang sangat unggul di bidang TI. Namun, saya melihat mereka sering kali kurang percaya diri. Padahal, mereka punya semua kemampuan. Ini bukan lagi masalah teknologi, melainkan masalah mental dan budaya,'' tegas Ismail Khalil Ibrahim, pakar TI dari Institute of Information and Computing Sciences, Universitas Utrecht Belanda kepada Media di sela-sela 4th International Conference on Information Integratian and Web-based Application and Services (IIWAS 2002), di Hotel Papandayan Bandung belum lama ini. Ilmuwan asal Baghdad, Irak, yang jadi Ketua Umum konferensi itu bukan berbasa-basi. Ismail terbukti belajar TI di Indonesia, di samping di negara-negara lain. Ia berhasil meraih gelar doktor TI, dengan yudisium cum laude, dari Program Pascasarjana (PPS) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun lalu. Ia pun pernah mengajar khusus bidang TI di PPS UGM (1996-2000). Ternyata para mahasiswanya sangat antusias, disiplin, dan memiliki daya simak yang tinggi. Mereka juga memiliki pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif. Ia juga mengenal banyak pakar TI dari berbagai perguruan tinggi Indonesia, terutama dari UGM, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Indonesia (UI) Depok, Jakarta. Bukti lainnya, pada IIWAS pertama dan kedua (1999 dan 2000) di UGM Yogyakarta, IIWAS ketiga (2001) di Wina, Austria, dan IIWAS keempat (2002) di ITB, semua makalah yang ditulis para ahli dan praktisi TI Indonesia berhasil menembus saringan panitia, sehingga semuanya layak dimasukkan ke dalam buku konferensi. ''Makalah-makalah yang datang dari negara lain, termasuk dari Eropa, hanya 50% yang lolos untuk dibukukan, dan yang 50% lagi ditolak karena tidak bermutu baik. Ini menunjukkan orang-orang Indonesia punya kemampuan yang sangat tinggi. Jadi, sekarang tergantung sepenuhnya kepada orang Indonesia sendiri, apakah perecaya diri atau tidak,'' ujar Ismail. Hal senada juga dikemukakan Stephane Bressan, Ketua Program konferesi tersebut kepada Media. Ketika pertama kali datang ke Indonesia (1996), doktor TI asal Eropa ini terheran-heran melihat banyak orang di Jakarta yang menggunakan pager. Padahal, pada masa itu hanya dokter dan insinyur yang siap dipanggil setiap waktu yang menggunakan pager di negara-negara Eropa. Begitu pula penggunaan telepon genggam. Tatkala dulu di Eropa hanya orang-orang atas yang memakai ponsel, ternyata di Jakarta orang-orang kelas bawah dan menengah pun sudah akrab dengan telepon seluler berteknologi GSM itu. Dari pengalamannya tiga kali mengikuti IIWAS di Indonesia, doktor TI yang kini mengajar di School of Computing, National University of Singapore, itu mengungkapkan ia dan kawan-kawannya yang datang dari Eropa memperoleh banyak ide, usul, dan masukan baru yang sangat berharga dari para ilmuwan dan praktisi TI Indonesia. Berbagai masukan berharga tersebut mereka gunakan dalam penelitian dan pengembangan TI di Eropa. ''Ini tidak mungkin kami lakukan bila kami tidak datang ke sini dan mendengar langsung dari orang-orang Indonesia,'' ujar Stephane Bressan. Ia juga menyaksikan banyaknya warung internet (warnet) berukuran besar di Indonesia. Hal yang sama tak ditemukannya di negara-negara Eropa. Karena memiliki SDM yang andal dan teknologi yang memadai, di samping masyarakatnya yang cepat tanggap dalam mengikuti setiap perkembangan TI, maka Stephane Bressan sangat optimistis bahwa Indonesia pasti sanggup mengikuti jejak negara-negara Asia lainnya, terutama dalam hal menghasilkan peranti lunak. Ilmuwan muda itu juga mengungkapkan, penyelenggaraan tiga kali konferensi IIWAS Indonesia telah berhasil melahirkan banyak kerja sama di bidang TI antara negara-negara Asia, khususnya Indonesia dengan berbagai negara Eropa. Konferensi internasional TI itu telah berhasil mempertemukan para ilmuwan dan peneliti dengan para pencipta/produsen dan pengguna (konsumen) produk-produk TI. Peluang dan tantangan Menurut Ismail Khalil Ibrahim, besarnya jumlah penduduk dan sangat luasnya wilayah Indonesia merupakan tantangan dan sekaligus kesempatan yang sangat bagus dalam pengembangan industri TI. Jadi, tak ada alasan bahwa Indonesia selamanya bersatus konsumen TI belaka, tapi harus juga menjadi produsen peranti lunaknya. Sumber informasi tersebar di mana-mana. Masalah komunikasi di antara sumber-sumber informasi ini sangat sulit dari segi teknologi. Masalah ini tentu perlu dipecahkan. Ini tantangan dan sekaligus kesempatan untuk kerja keras untuk meneliti bagaimana mengatasi masalah ini. ''Bagaimana Indonesia menyediakan sarana TI yang cukup untuk lebih 200 juta penduduknya? Ini tantangan dan sekaligus kesempatan,'' ujar Ismail yang selalu tampil sebagai panitia teras dalam empat kali konferensi IIWAS. FPM Dignum, doktor TI dari Mathematics and Computer Science, Uniersitas Utrecht, juga panitia program IIWAS 2002, dalam kesempatan itu kepada Media menegaskan, hanya satu kata kunci dalam penguasaan TI. ''Pendidikan, pendidikan, dan pendidikan,'' katanya tersenyum. Bila orang sudah memiliki saluran telepon tetap dan sebuah komputer pribadi (PC), maka mereka pasti mampu mengakses informasi apa pun dan dari mana pun melalui internet. Dengan menggunakan internet, sebetulnya mereka pun sudah mengalami proses belajar di bidang TI terapan. Ini berbeda dengan menggunakan pesawat telepon saja, kita tak belajar apa-apa. Ia menegaskan, orang-orang Indonesia tentu jauh lebih tahu apa yang mereka butuhkan di bidang informasi dan TI. Mereka pun pasti tahu cara memenuhi kebutuhan mereka tersebut. Sebagai perbandingan, India, ungkapnya, berhasil menentukan sikap dan tindakan yang sesuai dengan kebutuhannya. India berhasil menjadi produsen peranti lunak yang sangat maju. Kini banyak perusahaan dari berbagai negara yang menoleh ke India. Negara berpenduduk 900 juta jiwa lebih itu sama sekali tak berusaha untuk memproduksi peranti keras, tapi hanya peranti lunak, dan terbukti sukses. ''Saya sudah melihat sendiri Indonesia punya banyak ahli yang bisa melakukan seperti yang dilakukan India. Tinggal sekarang bagaimana Indonesia menentukan skala prioritas pembangunan bidang TI, mana yang pertama, mana yang kedua, dan seterusnya,'' ujar Dignum tersenyum. Ketiga pakar TI itu mengakui, dalam dunia telekomunikasi dan informasi, ada kesenjangan yang sangat lebar antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju, antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, serta antara orang-orang kota besar dan orang-orang desa. Jurang pemisah ini dapat ditutupi dengan tiga hal pokok, yakni pendidikan, SDM, dan sarana telekomunikasi. Menurut Ismail, ketiga hal penting ini dimiliki Indonesia. ''Saya yakin Indonesia bisa maju dalam waktu yang sangat cepat, dan sejajar dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Kata kuncinya, pendidikan. Ini memang butuh waktu panjang dan biaya besar,'' tegas Ismail. (Sahala Tua Saragih/B-2) Cetak
Berita
E-mail
Berita |
|
Copyright © 1999-2002 Media Indonesia. All rights reserved. In associated with Indonesia Interactive. Designed and maintained by Media Indonesia Online Development Team. Comments and suggestions please email webmaster@mediaindonesia.co.id |